Pengantar Oseanografi
"Pengantar Oseanografi"
Osean
yang berarti lautan atau samudra adalah subdivisi dari massa air yang luas
terletak diantara kontinen-kontinen. Bagian yang lebih kecil dari Osean disebut
Sea Dalam bahasa latin Oceanus, sedangkan secara harfiah, oseanografi berasal
dari bahasa yunani Oceanos yang berarti laut, dan ghrapos yang berarti gambaran
atau deskripsi. Oseanografi dapat didefinikan secara sederhana sebagai ilmu
yang mempelajari lautan dan aspek- aspek yang ada di dalamnya. Danau, sungai,
air tanah, uap air di atmosfer, samudera merupakan bagian besar dari muka bumi
yang dikenal sebagai Hidrosphere
Dengan
kata lain Oceanografi itu ialah Scientific study dan explorasi lautan dan
laut-laut serta semua aspek-aspek dan fenomenanya. Termasuk sedimen,batuan yang
membentuk dasar laut, interaksi antara laut dengan atmosfer, pergerakan air,
serta faktor-faktor tenaga yang menyebabkan adanya gerakan tersebut baik tenaga
dari dalam maupun tenaga dari luar, kehidupan organisma, susunan kimia air
laut, serta asal mula terjadinya lautan dan laut-laut purbakala. Oleh karena
itu oceanografi dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu mengenai laut yang
terdiri dari beberapa cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu geologi,
meteorology, biologi, kimia fisis, geofisika, geokimia, gerakan mekanis dan
aspek-aspek teoritis yang harus menggunakan ilmu pasti.
Cakupan
oseanografi yaitu organisme lsut dan dinamika fluida, tektonik lempeng dan
geologi dasar laut, dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik di dalam
samudra dan pada batas- batasnya, juga mengenai samudra dan memahami proses di
dalamnya, seperti proses biologi, kimia, geologi, meteorology, dan fisika.
Sahala
Hutabarat dan Stewart M.Evans (1985: 1), oseanografi dibagi menjadi empat
cabang ilmu, yaitu :
1. Fisika Oseanografi
Fisika
oseanografi yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara sifat-sifat fisika yang
terjadi dalam lautan sendiri dan yang terjadi antara lautan dengan atmosfer dan
daratan termasuk kejadian-kejadian seperti terjadinya tenaga pembangkit pasang
dan gelombang,arus,temperatur air laut, iklim dan sistem arus yang terdapat di
lautan.
2. Geologi Oseanografi
Yaitu
yang mempelajari lantai samudra atau litosfer di bawah laut. Ilmu geologi
penting artinya bagi kita dalam mempelajari asal terbentuknya lautan, termasuk
di dalamnya penelitian tentang lapisan kerak bumi, gunung berapi dan terjadinya
gempa bumi. Geologi oseanografi juga menjelaskan struktur dari bebatuan dan
bentuk- bentuk fisik dari lautan tersebut, misalnya adanya palung laut, lembah
laut, lubuk laut, lembah, dll serta memelajari terjadinya patahan- patahan yang
menyebabkan gempa bumi di laut.
3. Kimia Oseanografi
Kimia
oseanografi yaitu ilmu yang berhubungan dengan reaksi-reaksi kimia yang terjadi
di dalam dan di dasar laut dan juga menganalisa sifat-sifat dari air laut itu
sendiri.
Misalnya kadar garam yang
terdapat dalam air laut, zat- zat kimia yang mencemari, dll. Garam-garaman
utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat
(8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%)
teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber
utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik
dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.
4. Biologi Oseanografi
Biologi
oseanografi adalah cabang ilmu oseanografi yang sering dinamakan Biologi Laut
yang mempelajari semua organisme yang hidup di lautan termasuk
binatang-binatang yang berukuran sangat kecil (plankton) sampai yang berukuran
besar dan tumbuh-tumbuhan air laut.Di lautanpun juga terdapat kehidupan seperti
di daerah terestial, misalnya fitoplankton, zooplankton, terumbu karang,
nekton, bentos, dan lain- lain.
Dari
uraian di atas, Oseanografi juga merupakan ilmu lingkungan yang menerangkan
semua proses di dalam osean dan interelasi antara osean dengan tanah,udara dan
semesta alam sehingga dalam mempelajarinya selain di dalam laborarotium biota
juga perlu pergi ke laut dengan kapal-kapal expedisi melihat dan menyelidiki
secara nyata.
B. Batas-Batas Pantai
Daerah
peralihan antara daratan dan lautan sering ditandai dengan adanya suatu
perubahan kedalaman yang berangsur – angsur. Di sini dapat dikenal dan
dibedakan adanya tiga buah daerah.
Paparan Benua (
Continental Shelf )
Adalah
suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai ( kemiringannya kira – kira
sebesar 0,4% ) dan berbatasan langsung dengan daerah daratan. Daerah ini
biasanya mempunyai lebar antara 50 sampai 70 kilometer dan kedalaman maksimum
dari lautan yang ada di atasnya tidak lebih besar di antara 100 sampai 200
meter (bergantung kelandaian sekitar pantai ;paparan lebar pada daerah landai,
paparan sempit pada daerah perbukitan). Dasar tertutup endapan tebal dari
silt,pasir dan lumpur dari sungai.
Lereng Benua (
Continental Slope )
Lereng
benua mempunyai lereng yang lebih terjal dari paparan benua di mana
kemiringannya bevariasi antara 3% dan 6%. Lerengan curam dicirikan perubahan
cepat terhadap kedalaman dari 200 m ke 3000 m. Permukaan banyak batuan sedikit
endapan karena kecuraman. Submarine canyons – berasosiasi dengan keberadaan
system sungai pada masa lalu dan dengan turbidity current.
Tanjakan Benua (
Continental Rise )
Daerah
ini merupakan daerah yang mempunyai lereng yang kemudian perlahan – lahan
menjadi datar pada dasar laut. Lerengan landai terbentuk dari akumulasi
endapan. Endapan berasan dari turbidity current, longsoran bawah laut, dan
proses bawaan lainnya. Ciri dari Lautan Atlantik dan India.
Dasar Palung (
Ocean Basin Floor)
Kedalaman
antara 4000 – 6000 m (30 % dari luasan muka bumi). Biasanya berupa hamparan
luas (abyssal plain). Terdapat perbukitan abyssal (abyssal hills – tinggi <
1000 m). Gunung laut (seamount) yang dapat muncul ke permukaan menjadi pulau
yang berasosiasi dengan pulau karang (reefs). Guyot (gunung laut dengan puncak
datar yang tenggelam antara 1000 – 1700 m). Pada mulanya dipercaya bahwa
permukaan dasar lautan itu adalah datar dan tidak mempunyai bentuk, tetapi ilmu
– ilmu modern sekarang telah membuktikan bahwa topografi mereka adalah kompleks
seperti daratan. Bentuk – bentuk itu adalah sebagai berikut :
Ridge dan Rise
Ini
adalah suatu bentuk proses peninggian yang terdapat di atas lautan (sea floor)
yang hampir serupa dengan adanya gunung – gunung di daratan. Pada prinsipnya
tidak ada perbedaan antara ridge dan rise. Hanya dapat dibedakan dari letak
kemiringan lereng – lerengnya saja. Ridge lerengnya lebih bersifat terjal dari
rise.
Trench
Bagian
laut yang terdalam adalah berbentuk seperti saluran yang seolah – olah terpisah
sangat dalam yang terdapat diperbatasan antara benua dengan kepulauan. Biasanya
mempunyai kedalaman yang sangat besar. Sebagai contoh sebagian dari Jawa Trench
mempunyai kedalaman sebesar 7.700 meter.
Abyssal Plain (
Daratan Abisal )
Daerah
ini relatif terbagi rata dari permukaan bumi yang terdapat di bagian sisi yang
mengarah ke daratan dari sistem mid oceanic ridge.
Continental
Island ( Pulau – Pulau Benua )
Beberapa
pulau seperti Greenland dan Madagaskar menurut geologinya merupakan bagian dari
massa tanah daratan benua besar yang kemudian terpisah. Daerah – daerah ini
lapisan kerak buminya terdiri dari batu – batuan esi ( granitic ) yabg jenisnya
sama dengan yang terdapat di daratan benua.
Island Arc
(Kumpulan Pulau – pulau )
Kumpulan
pulau – pulau seperti Kepulauan Indonesi juga mempnyai perbatasan dengan benua,
tetepi mereka mempunyai asal yang berbeda. Kepulauan ini terdiri dari batu –
batuan vulkanik dan sisa – sisa sendimen pada bagian permukaan kulit lautan.
Mid-Oceanik volcanic Island (Pulau – pulau
vulkanik yang terdapat di tengah – tengah lautan ). Daerah ini terdiri dari
banyak pulau – pulau kecil, khususnya terdapat di Lautan Pasifik, dimana letak
mereka sangat jauh dari massa daratan.
Atol – Atol
Daerah
ini terdiri dari kumpulan pulau – pulau yang sebagian tebggelam di bawah
permukaan air. Batu – batuan yang terdapat disini ditandai oleh adanya terumbu
karang yang terbentuk seperti cincin yang mengelilingi sebuah lagon yang
dangkal.
Seamount dan
Guyot
Mereka
adalah gunung – gunung berapi yang muncul dari dasar lantai lautan, tetapi
tidak dapat mencapai sampai ke permukaakn lut. Seamount mempunyai lereng yang
curam dan berpuncak runcing dan kemungkinan mempunyai tinggi sampai 1 kilometer
atau lebih. Guyot mempunyai bentuk yang serupa dengan seamount tetepi bagian puncaknya
datar.
C. Sumber Energi Untuk Reaksi
Kimia
Reaksi
kimia berada di laut, seperti pada kesetimbangan kimia. Kesetimbangan ini
membawa masukan energy dari dua sumber : matahari dan energy dari dalam bumi.
Energi matahari, dari fotosintesis, memungkinkan perubahan oleh tanaman laut
oleh materi organik dan perubahan karang (silica) yang mengadakan kesetimbangan
dalam air laut. Sebagai tambahan, hewan laut berfotosintesis menghasilkan materi
organic dan juga perubahan struktur kimia. Sebagai akibat di antara tanaman dan
aktivitas hewan. Permukaan air menjadi dalam, dengan kedalaman dan sisa organic
menjadi kaya beberapa elemen dalam uji coba untuk kesetimbangan kimia.
Aktivitas fotosintesis dari konsentrasi permukaan air (dari permukaan laut
sampai 200 m) karena kekurangan penetrasi dari cahaya matahari untuk kedalaman
yang dalam (sintesis dari materi organic dalam daerah yang gelap oleh organism
laut yang tidak berfotosintesis yang berada di dekat pusat vulkanik dan tengah
laut juga terjadi, tetapi dalam laju yang ekstrim.
Sumber
energy utama yang lain dalam kesetimbangan kimia pada laut adalah panas bumi.
Contoh sumber panas bumi adalah energy vulkanik. Mineral di dalam laut yang
bersifat basa akan membentuk magma yang sangat panas. Apabila itu tidak
berinterajsi dengan air laut maka akan terjadi kestabilan. Reaksi mungkin dapat
terjadi pada temperature yang tinggi ataupun yang rendah, temperature dasar
laut reaksi antara basa dengan air akan semakin cepat dengan kenaikan
temperature.
Energi
matahari dan panas bumi juga mempunyai efek tidak langsung pada komposisi laut.
Energi matahari membantu penguapan air laut, pengangkutan uap air ke benua, dan
pembentukan air hujan, yang kemudian jatuh ke benua untuk membentuk air tanah,
groundwater, danau dan sungai. Sementara itu, energi dalam bumi, yang
menunjukkan pengangkatan tektonis dan volcanis, menyebabkan pembentukan batu
karang pada kedalaman untuk diangkat ke dalam zona kerusakan karena iklim pada
benua itu. batu karang tidak stabil dan bereaksi dengan air tanah dan
groundwaters lewat mediasi dari( digunakan proses fotosintesis) tumbuhan hijau,
untuk menyempurnakan pembentukan dari pelarutan unsur-unsur dan mineral baru.
Mineral berbentuk kasar pada kesetimbangan dengan perairan kontinental tetapi
tidak penting pada kesetimbangan dengan air laut,yang mana mempunyai suatu
komposisi yang berbeda. sebagai konsekwensi, secara terestrial membentuk produk
kerusakan karena iklim ( larutan dan suspensi padat) dibawa dari sungai ke
samudra, di mana mereka mengalami berbagai reaksi kimia dengan air laut.
Sebagai tambahan, berbagai bahan kimia yang tidak stabil dan mineral
metamorphic yang diatur untuk melepaskan kerusakan karena iklim kimia juga ditambahkan
ke samudra dan mungkin juga mengalami reaksi kimia. proses yang berlangsung
pada benua sebagai jawaban atas matahari dan masukan energi dalam bumi dapat
mempengaruhi komposisi air laut juga.
D. Proses Utama Pada Modifikasi
Air Laut
- Proses Biologi
Reaksi
kimia di dalam samudra terjalin dengan proses hidup sebagai kendali utama pada
konsentrasi unsur air laut berikut: Ca2+,HCO3-,SO42-,H4SiO4,CO2,O2,NO3-, dan
Orthophosphate. Biogeochemistry berhubungan laut dan perannya di dalam cycles,
konsultan dunia Berger et al. ( 1989) dan Wollast et Al. ( 1993).] aktivitas
biologis juga betul-betul mempengaruhi jejak-jejak elements,sebagai contoh:
copper dan nikel ( Boyle Et Al. 1997;Sclater et al.1976). Tiga proses prinsip
dapat dikenali: (1) sintesis jaringan/tisu lembut atau organik, (2) pembusukan
(dekomposisi) senyawa organik yang telah mati oleh bakteri , dan (3)
pengeluaran bagian yang keras.
- Reaksi vulkanis-air laut
Aktivitas
volkanis di dalam samudra itu luas dan produknya terdiri dari arus lahar basalt
kapal selam. Produk vulkanik yang berlimpah ini meliputi gelas/kaca volkanis,
pyroxenes, zat kapur plagioclase, dan olivine, semua dari air laut yang secara
kimiawi tidak stabil. Sebagai hasil ketidakstabilan dan distribusi tersebar
luas, unsur ini bereaksi dengan air laut, mengubah komposisinya dan mineral
baru diproduksi di berbagai temperatur lingkungan, baik temperature tinggi
maupun temperature rendah. Bersama dengan itu proses biological (termasuk
sungai), reaksi vulkanis-air laut mendasari dua mekanisme komposisi samudra
modern diciptakan dan dirawat.
- Interaksi dengan Detrital
Padat
Detrital
Material memindahkan mineral silikat besar dalam samudra dan sungai, terutama
tanah liat yang tidak berhubungan dengan keseimbangan air laut. Oleh karena
itu, ketika mereka memasuki lautan, reaksi kimia berlangsung. Reaksi melibatkan
keseluruhan mineral silikat, atau hanya permukaan nya. Pada kasus terdahulu
kita mempunyai pembentukan baru, biasanya lebih kation-kaya mineral dari kaum
tua detrital satu, dan proses menyerupai kerusakan karena iklim, dikenal
sebagai membalikkan kerusakan karena iklim ( Mackenzie dan Garrels 1960).
Kemudian karena kelambanan reaksi, hanya perubahan kimia yang menyertakan jenis
pada permukaan mineral berlangsung, dan proses ini dikenal sebagai
adsorption-desorption atau, jika ion adalah involved,ion pertukaran. Bersamaan
dengan itu, kerusakan disebabkan karena iklim, Adsorpsi-Desorpsi dan Pertukaran
Ion meliputi semua reaksi utama antar runtuhan silikat pada sungai dan air
laut.
E. Kadar Bahan Kimia dalam
Bentuk Elemen Tunggal
Air
laut umumnya terdiri dari beberapa elemen ion, Chloride, Sodium ( Natrium ),
Sulfate, Magnesium, Potassium ( Kalium ), Calcium, Bicarbonate, Silica,
Phosphorus, Nitrogen. Kumpulan ion-ion ini umumnya dikenal sebagai salinitas.
Sifat air laut yang cukup penting dalam menentukan produktivitas perairan
adalah viskositas (kepekatan) yang sangat dipengaruhi oleh salinitas dan suhu.
Air laut yang mempunyai suhu tinggi dan salinitas rendah akan mempunyai
viskositas yang rendah. Apabila air laut mempunyai suhu rendah dan salinitas
tinggi maka viskositas menjadi sangat pekat. Rata-rata konsentrasi garam-garam
terlarut di air laut berkisar 3.5%, namun konsentrasi tersebut tergantung pada
lokasi dan laju evaporasi (Brown et al 1989 dan Millero, 1996). Konsentrasi ion
utama terlarut bervariasi dari stu lokasi ke lokasi lain, namun secara proporsi
relatifnya konstan (Brown et al 1989 dan Pichard and Emery, 1990). Air laut
sudah banyak digunakan untuk mengairi tanaman yang toleran terhadap salinitas
(halophytes) pada daerah-daerah dekat pantai (Pasternak et al 1985). Mengingat
tingginya kandungan kation, air laut dapat digunakan sebagai salah satu sumber
hara bagi tanaman termasuk tanaman yang sensitive terhadap kadar garam yang
tinggi (glycophyte plants).
Bikarbonat
Saat
ini konsentrasi Karbondioksida (CO2) di atmosfer sudah hampir mencapai 380 ppm,
80 ppm diatas nilai maksimum konsentrasi di atmosfer pada 740.000 tahun
sebelumnya. Sepanjang abad ke 20 hal ini telah berdampak pada naiknya suhu
global di laut dengan rata-rata 0,74ºC, kadar pH laut menjadi jauh lebih asam
dan hal ini juga menyebabkan konsentrasi ion carbonat dilaut menjadi 210 µmol
kg-1, angka ini jauh lebih rendah dari 420.000 tahun yang lalu. Dampak yang
terjadi akibat adanya pengasaman dilaut akibat pH menjadi lebih rendah adalah
berkaitan dengan proses terserapnya CO2 kedalam laut yang juga akan berpengaruh
terhadap proses pembentukan kapur pada karang, seperti ditunjukan pada gambar
dibawah
Hampir
25% sumber CO2 selama ini berasal dari aktivitas manusia seperti industri dan
transportasi yang hampir sebagian besar telah terserap di lautan. CO2 yang
telah terserap tersebut bergabung dengan air laut sehingga menghasilkan senyawa
asam karbonat (HCO3-) dan ion Hidrogen (H-) yang selanjutnya juga akan
berikatan dengan ion karbonat dilaut (CO32-) sehingga menghasilkan asam
karbonat juga, oleh karena itu semakin tinggi konsentrasi CO2 maka semakin
tinggi juga konsentrasi asam karbonat dilaut yang akan menyebabkan laut menjadi
lebih asam (Ascidification) dan juga dapat mengurangi ion karbonat dilaut yang
seharusnya digunakan dalam proses pengkapuran dilaut (Calcification) seperti
pada karang. Berkurangnya konsentrasi senyawa karbonat dalam pembentukan
kalsium karbonat (CaCO3) dilaut sangat berpengaruh terhadap proses pengkapuran
karang, menurut Hoegh,et al, 2007 ada 3 mekanisme karang dalam menerima respon
terhadap hal tersebut, yaitu :
- karang akan mengurangi
tingkat pertumbuhan dan densitas skeletalnya dari koloni karang,
- karang kemungkinan tetap
mempertahan tingkat pertumbuhannya dengan mengurangi densitas skeletalnya,
- karang tetap
mempertahankan pertumbuhan dan densitas skeletalnya dengan memfokuskan energi
untuk proses pengkapuran (calcification) tetapi efek sampingnya adalah
mengurangi proses reproduksinya sehingga dapat menyebabkan berkurangnya jumlah
larva yang dikeluarkan karang.
Dampak
yang dirasakan bagi kita sendiri dalam jangka panjang akibat pengasaman laut
tersebut adalah berkurangnya hasil perikanan laut akibat tingginya tingkat
kematian juvenil ikan karang dikarenakan kurangnya tempat berlindung dikarang
akibat lambatnya pertumbuhan karang. Hal yang jelas harus kita lakukan saat ini
adalah dengan mengurangi emisi CO2 dan dan mengurangi limbah rumah tangga
maupun industri yang dapat mempengaruhi kualitas air dilautan yang jangka
panjangnya dapat meningkatkan pertumbuhan alga yang menjadi kompetitor karang
dilaut (YG).
F. Pencemaran Laut
Pencemaran
laut merupakan salah satu problema yang cukup menyita para ilmuwan sejak
revolusi industri. Meningkatnya konsumsi bahan-bahan kimia yang akan menjadi
toksik di dalam lingkungan hidup ditengarai sebagai salah satu factor penyebab
pencemaran laut. Pada prinsipnya pencemaran laut terjadi karena komposisi
komponen-komponen alami di lautan terganggu. Pencemaran laut secara garis besar
dibagi menjadi lima kelompok berdasarkan zat pencemarnya.
Pencemaran
Minyak.
Minyak
merupakan sumber pencemaran laut yang besar. Rata-rata pencemaran laut akibat
tumpahan minyak menyumbang 30 juta ton minyak per tahun di seluruh dunia (David
A. Rose,1977) Minyak yang terapung amat berbahaya bagi kehidupan laut karena
minyak merupakan senyawa karbon yang sulit untuk terdegradasi. Tumpahan minyak
akan terbawa arus dan angin menuju tempat yang lebih jauh sehingga pencemaran
minyak di lautan sangat mudah meluas. Pembersihan akibat tumpahan minyak dapat
dilakukan dengan detergen atau bioremidiasi dengan mikroorganisme pemakan
minyak. Remidiasi dengan detergen akan menimbulkan masalah baru karena
membahayakan organisme microbial.
Contoh pencemaran minyak
Tenggelamnya
kapal tanker Torrey Canyon di perairan Inggris pada tahun 1967 Tumpahnya minyak
Exxon Valdez di Selat Prince William, Alaska pada 24 Maret 1989. Sebanyak 10,8
juta gallon (257.000 barel) minyak tumpah dan mencemari 1.300 mil (2.100 km)
garis pantai Alaska. Menyebar hingga 740 km dari Semenanjung Alaska ke Chignik
( 1,5 juta gallon dibersihkan, sisanya tenggelam). Bocornya kilang minyak
Montara milik Australia di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Keenam kabupaten yang
terkena dampak pencemaran yaitu Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Belu,
Alor dan Ende pada Agustus 2009. M encemari pertanian rumput laut.
Pencemaran Logam
Berat.
Beberapa
logam berat merupakan komponen penting yang dibutuhkan oleh biota laut dalan
konsentrasi yang sangat kecil. Contohnya adalah besi dalam pembentukan oksidasi
enzim sitokrom dan hemoglobin, tembaga untuk pigmen haemocyanin. Namun, logam
berat akan menjadi racun apabila berada pada konsentrasi yang tinggi. Misalnya
cadmium, timah hitam, merkuri, dsb. Ambang batas merkuri 0,5 ppm. Pada kasus
minamata
|
Tempat
|
K
onsentrasi
|
|
Rambut
penderita minamata
|
705
ppm
|
|
Warga
sehat
|
191
ppm
|
|
Warga
di luar minamata
|
4,42
ppm
|
|
Air
seni penderita
|
30-120
gamma
|
|
Ikan
dan kerang
|
20-40
ppm
|
(Harada Masazumi, 2005)
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Rukaesih. 2004.
Kimia Lingkungan.Andi: Yogyakarta
Akhadi, Mukhlis. 2009.
Ekologi Energi.Graha Ilmu:Yogyakarta
Berner, Elizabet Kay. 1996. Global
environment: Water, Air, ang Geological Chemical Cycles. New Jersey : Prentice
Hall
Hutabarat, SAhala. 1985.
Pengantar Oceanografi.Jakarta:UI Press
Masazumi, Harada.2005.
Tragedi Minamata.Media Kajian Sulawesi: Makasar
Rosse, David A.1977.
Introduction Oceanography. Englewood Clifft:Prentice Hall
http://ataplaut.wordpress.com/2009/01/10/co2-dilautan/
http://dhamadharma.wordpress.com/2010/02/11/minor-elemen-di-laut/
http://forum.o-fish.com/viewtopic.php?f=5&t=8076
http://hidayat-idien.blogspot.com/2007/06/tugas-siklus-silikon.html
http://moszablinkers182.blogspot.com/2010/03/hand-out-oseanografi.html








Komentar
Posting Komentar